Tampilkan postingan dengan label BATAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BATAK. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 Agustus 2011
Info Unik mengenai Batak Karo
Tahukah anda:Batak karo termasuk dalam suku batak,tetapi ada beberapa sumber berkata bahwa hal itu tidak benar/keliru,saya pernah baca di Sabda mengatakan bahwa karo bukan termasuk dalam etnis Bataksampai sekarang saa masih mencari kebenarannya.
Kamis, 04 Agustus 2011
Batak itu.....
A.Bahasa
Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak menggunakan beberapa logat, ialah: (1)Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo; (2) Logat Pakpak yang dipakai oleh Pakpak; (3) Logat Simalungun yang dipakai oleh Simalungun; (4) Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing.
B.Religi
Pada abad 19 agama islam masuk daerah penyebaranya meliputi batak selatan . Agama kristen masuk sekitar tahun 1863 dan penyebaranya meliputi batak utara. Walaupun d emikian banyak sekali masyarakat batak didaerah pedesaan yang masih mmpertahankan konsep asli religi pendduk batak. Orang batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan bertempat tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukanya . Debeta Mula Jadi Na Balon : bertempat tinggal dilangit dan merupakan maha pencipta; Siloan Na Balom: berkedudukan sebagai penguasa dunia mahluk halus. Dalam hubungannya dengan roh dan jiwa orang batak mengenal tiga konsep yaitu : Tondi: jiwa atau roh; Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang; Begu : Tondinya orang yang sudah mati. Orang batak juga percaya akan kekuatan sakti dari jimat yang disebut Tongkal.
C.Kesenian
Seni Tari yaitu Tari Tor-tor (bersifat magis); Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Alat Musik tradisional : Gong; Saga-saga. Hasil kerajinan tenun dari suku batak adalah kain ulos. Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang .
D.Pengetahuan
Orang Batak juga mengenal sistem gotong-royong kuno dalam hal bercocok tanam. Dalam bahasa Karo aktivitas itu disebut Raron, sedangkan dalam bahasa Toba hal itu disebut Marsiurupan. Sekelompok orang tetangga atau kerabat dekat bersama-sama mengerjakan tanah dan masing-masing anggota secara bergiliran. Raron itu merupakan satu pranata yang keanggotaannya sangat sukarela dan lamanya berdiri tergantung kepada persetujuan pesertanya.
E.Organisasi Sosial
a. Perkawinan
Pada tradisi suku Batak seseorang hanya bisa menikah dengan orang Batak yang berbeda klan sehingga jika ada yang menikah dia harus mencari pasangan hidup dari marga lain selain marganya. Apabila yang menikah adalah seseorang yang bukan dari suku Batak maka dia harus diadopsi oleh salah satu marga Batak (berbeda klan). Acara tersebut dilanjutkan dengan prosesi perkawinan yang dilakukan di gereja karena mayoritas penduduk Batak beragama Kristen.
Untuk mahar perkawinan-saudara mempelai wanita yang sudah menikah.
b. Kekerabatan
Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga.Ada pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan pendiri dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya nama marga. Klen kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu kawasan. Sebaliknya klen besar yang anggotanya sdah banyak hidup tersebar sehingga tidak saling kenal tetapi mereka dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama kecilnya, Stratifikasi sosial orang Batak didasarkan pada empat prinsip yaitu : (a) perbedaan tigkat umur, (b) perbedaan pangkat dan jabatan, (c) perbedaan sifat keaslian dan (d) status kawin.
F.Teknologi
Masyarakat Batak telah mengenal dan mempergunakan alat-alat sederhana yang dipergunakan untuk bercocok tanam dalam kehidupannya. Seperti cangkul, bajak (tenggala dalam bahasa Karo), tongkat tunggal (engkol dalam bahasa Karo), sabit (sabi-sabi) atau ani-ani. Masyarakat Batak juga memiliki senjata tradisional yaitu, piso surit (sejenis belati), piso gajah dompak (sebilah keris yang panjang), hujur (sejenis tombak), podang (sejenis pedang panjang). Unsur teknologi lainnya yaitukain ulos yang merupakan kain tenunan yang mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan adat Batak.
G.Mata Pencaharian
Pada umumnya masyarakat batak bercocok tanam padi di sawah dan ladang. Lahan didapat dari pembagian yang didasarkan marga. Setiap kelurga mandapat tanah tadi tetapi tidak boleh menjualnya. Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimiliki perseorangan .
Perternakan juga salah satu mata pencaharian suku batak antara lain perternakan kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitar danau Toba.
Sektor kerajinan juga berkembang. Misalnya tenun, anyaman rotan, ukiran kayu, temmbikar, yang ada kaitanya dengan pariwisata.
Aksara Batak
asal Alfabet Batak, atau surat Batak, adalah keturunan akhir dari script dari Brahmi dari India kuno dengan cara dari Palawa dan Kawi kuno .
Batak Toba abjad suku kata
Dairi Batak, yang juga dikenal sebagai Toba Batak dan Batta, adalah sebuah bahasa Austronesia dituturkan oleh sekitar 2 juta orang di bagian utara pulau Sumatera Indonesia.
PENGEMBANGAN AKSARA BATAK
Pada awalnya nenek moyang kita Siraja Batak mengukir aksara Batak untuk dapat menulis bahasa Batak, bukan untuk dapat menulis bahasa-bahasa yang lain. Barangkali pada waktu aksara Batak itu disingahon Siraja Batak, mereka tidak teipikir bahwa masih ada bahasa-bahasa yang lain selain bahasa daerah Batak.
Akan tetapi setelah Siraja Batak marpinompari, mereka menyebar ke desa na uwalu, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya masih ada bahasa daerah selain bahasa Batak.
Hal ini setelah datangnya sibontar mata (bangsa asing), kemudian menyusul dengan perang Batak dan perang Padri, barulah terbuka mata para pendahulu kita bahwa sebetulnya masih banyak bahasa-bahasa yang mereka temui di luar Tano Batak.
Kemudian kita merdeka, maka semakin banyak pula pergaulan orang Batak dalam rangka mencari upaya-upaya peningkatan taraf hidup.
Mereka bisa sekolah di negeri masing-masing bahkan bisa di luar Tano Batak dan akhirnya bisa ke Batavia.
Pengetahuan kita semakin terbuka sehingga selain bahasa Indonesia masih banyak bahasa-bahasa daerah lain dibumi persada kita ini.
Kalau kita melihat bahasa daerah Sunda, Jawa, Bali dan lain-lain, aksara Batak itu hanya bisa menulis bahasa Indonesia selain bahasa Batak. Aksara Batak tidak bisa menulis bahasa Sunda, Jawa, Aceh, Bali dan sebagainya maupun bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman.
Untuk mengantisipasi perkembangan zaman, sesuai dengan amanat GBHN, maka tokoh-tokoh masyarakat Batak melalui seminar pada tanggal 17 Juli 1988, telah mencoba mengembangkan aksara Batak dari 19 induk huruf menjadi 29 induk huruf.
Dengan demikian, maka bahasa Indonesia akan dapat dituliskan dengan aksara Batak.
Surat Batak yang di sepakati 17 Juli 1988 dikembangkan oleh masyarakat Batak Angkola-Sipirok-Padang Lawas-Mandailing-Toba-Toba-Dairi-Simalungun dan Batak Karo
Induk Huruf
Sistem tradisi penulisan didalam bahasa Batak Toba diduga telah ada sejak abad ke-13,dengan aksara yang mungkin berasal dari aksara Jawa Kuna, melalui aksara Sumatera Kuna. Aksara ini bersifat silabis artinya tanda untuk menggambarkan satu suku kata/silaba atau silabis. Jumlah lambang /tanda itu sebanyak 19 buah huruf yang disebut juga induk huruf dan ditambah 7 jenis anak huruf.
Pada dasarnya huruf /ka/ tidak pernah ditemukan dalam bahasa Batak Toba, misalnya orang Batak Toba pada mulanya bila menyebutkan kopi adalah hopi, dan hoda [bukan kuda]. Tetapi sekarang ini orang Batak tidak lagi menyebutnya hopi melainkan kopi, itulah perubahan pelafalan dalam bahasa Batak Toba.
Batak Toba abjad suku kata
Dairi Batak, yang juga dikenal sebagai Toba Batak dan Batta, adalah sebuah bahasa Austronesia dituturkan oleh sekitar 2 juta orang di bagian utara pulau Sumatera Indonesia.
PENGEMBANGAN AKSARA BATAK
Pada awalnya nenek moyang kita Siraja Batak mengukir aksara Batak untuk dapat menulis bahasa Batak, bukan untuk dapat menulis bahasa-bahasa yang lain. Barangkali pada waktu aksara Batak itu disingahon Siraja Batak, mereka tidak teipikir bahwa masih ada bahasa-bahasa yang lain selain bahasa daerah Batak.
Akan tetapi setelah Siraja Batak marpinompari, mereka menyebar ke desa na uwalu, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya masih ada bahasa daerah selain bahasa Batak.
Hal ini setelah datangnya sibontar mata (bangsa asing), kemudian menyusul dengan perang Batak dan perang Padri, barulah terbuka mata para pendahulu kita bahwa sebetulnya masih banyak bahasa-bahasa yang mereka temui di luar Tano Batak.
Kemudian kita merdeka, maka semakin banyak pula pergaulan orang Batak dalam rangka mencari upaya-upaya peningkatan taraf hidup.
Mereka bisa sekolah di negeri masing-masing bahkan bisa di luar Tano Batak dan akhirnya bisa ke Batavia.
Pengetahuan kita semakin terbuka sehingga selain bahasa Indonesia masih banyak bahasa-bahasa daerah lain dibumi persada kita ini.
Kalau kita melihat bahasa daerah Sunda, Jawa, Bali dan lain-lain, aksara Batak itu hanya bisa menulis bahasa Indonesia selain bahasa Batak. Aksara Batak tidak bisa menulis bahasa Sunda, Jawa, Aceh, Bali dan sebagainya maupun bahasa-bahasa asing seperti bahasa Inggris, Perancis, Jerman.
Untuk mengantisipasi perkembangan zaman, sesuai dengan amanat GBHN, maka tokoh-tokoh masyarakat Batak melalui seminar pada tanggal 17 Juli 1988, telah mencoba mengembangkan aksara Batak dari 19 induk huruf menjadi 29 induk huruf.
Dengan demikian, maka bahasa Indonesia akan dapat dituliskan dengan aksara Batak.
Surat Batak yang di sepakati 17 Juli 1988 dikembangkan oleh masyarakat Batak Angkola-Sipirok-Padang Lawas-Mandailing-Toba-Toba-Dairi-Simalungun dan Batak Karo
Induk Huruf
Sistem tradisi penulisan didalam bahasa Batak Toba diduga telah ada sejak abad ke-13,dengan aksara yang mungkin berasal dari aksara Jawa Kuna, melalui aksara Sumatera Kuna. Aksara ini bersifat silabis artinya tanda untuk menggambarkan satu suku kata/silaba atau silabis. Jumlah lambang /tanda itu sebanyak 19 buah huruf yang disebut juga induk huruf dan ditambah 7 jenis anak huruf.
Pada dasarnya huruf /ka/ tidak pernah ditemukan dalam bahasa Batak Toba, misalnya orang Batak Toba pada mulanya bila menyebutkan kopi adalah hopi, dan hoda [bukan kuda]. Tetapi sekarang ini orang Batak tidak lagi menyebutnya hopi melainkan kopi, itulah perubahan pelafalan dalam bahasa Batak Toba.
Kain tradisional khas Batak
Ulos merupakan salah satu kerajinan tradisional khas Batak. Entah kapan masyarakat Batak mulai membuat Ulos. Konon, Ulos telah menjadi kerajinan khas Batak sejak dulu. Bahkan sebelum mereka mengenal produk tekstil, Ulos dijadikan pakaian keseharian. Meskipun demikian, tidak semua Ulos Batak dapat dipakai dalam keseharian.
Ada Ulos yang hanya boleh dikenakan dalam acara tertentu. Misalkan saja, Ulos Jugia. Ulos ini hanya boleh dikenakan oleh orang Batak yang telah memiliki cucu. Ada juga Ulos Ragi Hidup yang dapat dipakai untuk berbagai keperluan adat. Tidak hanya dua macam Ulos itu saja, masih ada beberapa jenis lainnya.
Proses pembuatan Ulos relatif sama dengan kain tenun tradisional pada umumnya. Sehelai Ulos dibuat dari beberapa helai benang yang ditenun dengan menggunakan alat tenun tradisional. Para pengrajin tenun seringkali menyebutnya ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin. Untuk membuat sehelai kain Ulos diperlukan waktu yang relatif lama. Itulah mengapa, kesabaran dan ketekunan sangat diperlukan ketika memproduksi sehelai Ulos.
Untuk memproduksi satu helai Ulos, ada beberapa tahap yang harus dilalui. Pertama, proses penenunan benang. Proses penenunan ini menentukan motif ataupun jenis Ulos yang akan diproduksi. Kedua, pewarnaan kain. Biasanya, dominan warna dasar kain Ulos, Merah, Hitam, dan Putih. Seringkali, mereka menggunakan bahan alami untuk memberi warna dasar benang ulos. Setelah warna telah siap, barulah kain yang telah ditenun dicelupkan ke dalam cairan pewarna. Ada yang mengatakan, proses ini memakan waktu yang relatif lama. Untuk membuat kain dengan beberapa warna, kain tersebut haruslah dicelup ke dalam pewarna berulang. Setelah penenunan dan pewarnaan, proses selanjutnya adalah pengeringan. Setelah semua tahap tersebut telah dilalui, barulah Ulos dapat dibuat sedemikian rupa mengikuti bentuk kerajinan yang diinginkan.
Konon, tidak semua orang dapat membuat Ulos. Selain membutuhkan proses lama, butuh keahlian khusus untuk membuat sehelai Ulos. Di kalangan pengrajin Ulos, ada yang namanya tingkatan menenun. Tingkatan tersebut berdasarkan jumlah lidi yang digunakan untuk membuat motif kain. Untuk tingkat pemula, ia hanya diperbolehkan membuat Ulos dengan motif sederhana. Karena, untuk membuat motif tersebut hanya dibutuhkan beberapa jumlah lidi saja. Semakin banyak motif, jumlah lidi yang digunakan juga akan bertambah. Biasanya, jenis Ulos yang diproduksi pengrajin pemula adalah selendang. Ketika telah mampu menenun dengan mempergunakan tujuh buah lidi, ia dapat memproduksi berbagai jenis ataupun motif kain Ulos lainnya.
Menurut adat istiadat Batak, setiap orang Batak akan menerima minimal tiga macam Ulos sejak ia lahir hingga meninggal dunia. Pertama, ia akan memperoleh Ulos ketika baru dilahirkan ke dunia. Orang Batak juga akan menerima Ulos ketika ia menikah. Yang terakhir, ia akan menerima Ulos ketika meninggal dunia.
Sejarah Batak
Batak adalah nama suku bangsa di Indonesia yang bermukim di Sumatera Utara. Suku Batak ini berdiaspora ke berbagai penjuru Indonesia. Diperkirakan di wilayah jabodetabek saja sudah mencapai lebih dari 200.000 jiwa. Sudah lebih banyak orang Batak yang bermukim di luar daerah asalnya yakni Tapanuli,Simalungun dan Karo. 14% penduduk kota medan adalah orang Batak, sehingga secara nasional orang Batak sering disebut anak Medan.
Orang Batak terkenal dengan Agama Kristen, namun ajaran Kristen ini dulunya sangat sulit diterima sehingga sering mengalami kegagalan. Misionaris yang paling berhasil adalah L.L.Nommensen yang melanjutkan tugas pendahulunya menyebarkan agama Kristen di wilayah tapanuli. Nomensen dan penyebar agama lainnya berperan besar dalam pembangunan dua rumah sakit yaitu RSU Tarutung dan RS HKBP Balige yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka.
Masyarakat Batak dari zaman dahulunya dipimpin dalam bentuk kerajaan. Pada masa kerajaan batak yang berpusat di bakkara, kerajaan Batak yang dalam pemerintahan sisingamangaraja di bagi dalam empat wilayah yang disebut Raja Maropat, yaitu:
1. Raja Maropat Silindung
2. Raja Maropat Samosir
3. Raja Maropat Humbang
4. Raja Maropat Toba
Suku Batak Toba masuk di wilayah Raja Maropat Toba. Di wilayah tersebut putri raja yang bernama Sonak Malela mempunyai tiga orang putra dan melahirkan empat marga yang akhirnya berkembang dan melahirkan marga-marga yang lain, yaitu Simangunsong, Marpaung, Napitupulu dan Pardede.
Orang Batak terkenal dengan Agama Kristen, namun ajaran Kristen ini dulunya sangat sulit diterima sehingga sering mengalami kegagalan. Misionaris yang paling berhasil adalah L.L.Nommensen yang melanjutkan tugas pendahulunya menyebarkan agama Kristen di wilayah tapanuli. Nomensen dan penyebar agama lainnya berperan besar dalam pembangunan dua rumah sakit yaitu RSU Tarutung dan RS HKBP Balige yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka.
Masyarakat Batak dari zaman dahulunya dipimpin dalam bentuk kerajaan. Pada masa kerajaan batak yang berpusat di bakkara, kerajaan Batak yang dalam pemerintahan sisingamangaraja di bagi dalam empat wilayah yang disebut Raja Maropat, yaitu:
1. Raja Maropat Silindung
2. Raja Maropat Samosir
3. Raja Maropat Humbang
4. Raja Maropat Toba
Suku Batak Toba masuk di wilayah Raja Maropat Toba. Di wilayah tersebut putri raja yang bernama Sonak Malela mempunyai tiga orang putra dan melahirkan empat marga yang akhirnya berkembang dan melahirkan marga-marga yang lain, yaitu Simangunsong, Marpaung, Napitupulu dan Pardede.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pengikut
Halaman
About me
- Gratia,Kzilua
- saya adalah anak berusia 18 tahun yang sedang belajar tentang internet,saya belajar nge-blog sejak saya umur 2 tahun,saya ga pernah bohong apalagi soal identitas saya,saya rajin beribadah,rajin menabung,santun pada orang tua,dan sayang kepada yang lebih muda.Saya membuat blog ini untuk mengenalkan suku dan etnis saya,saya batak dan saya tidak/belum makan orang
Blog archives
Label
- BATAK (5)









